Share

Laman

Rabu, 05 Juni 2013

Konsep Pariwisata Islami

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dosen Jurusan Pariwisata Program Pendidikan Vokasi Universitas Brawijaya, A. Faidlal Rahman, SE.Par.,M.Sc (kiri)Dosen Jurusan Pariwisata Program Pendidikan Vokasi Universitas Brawijaya, A. Faidlal Rahman, SE.Par.,M.Sc (kiri)Dosen Jurusan Pariwisata Program Pendidikan Vokasi Universitas Brawijaya, A. Faidlal Rahman, SE.Par.,M.Sc memperkenalkan konsep Pariwisata Islami dalam 2nd Association of Indonesian Tourism Tertiary Education Institutions (AITEI) di Malaysia, Kamis (23/5).
Dalam konferensi internasional tersebut, Faid memaparkan bahwa Pariwisata Islami merupakan konsep yang masih baru. Pariwisata Islami melibatkan kegiatan, pengalaman atau kesenangan dalam bentuk perjalanan sesuai dengan konsep Islam dan bisa dilakukan melalui sejarah, seni, kebudayaan, warisan, cara hidup, dan ekonomi.
Faid sengaja menggabungkan konsep Islam dengan pariwisata karena menurutnya travelling sejalan dengan Islam.

"Dengan travelling, manusia akan banyak mendapat keuntungan yaitu mendidik untuk tidak menjadi arogan, semakin mensyukuri nikmat Allah lewat ciptaanNya, mengurangi ketegangan jiwa, raga, dan pikiran dari masalah yang ada,"kata Faid.
Konsep Pariwisata Islami yang diutarakan Faid bisa diterapkan pada Pulau Madura. Madura bisa menjadi tujuan wisata berbasis Islam karena potensi-potensi yang dimiliki, seperti sosial-budaya Islam, kesenian-kesenian Islam, seperti hadrah, macopat, dan samman. Selain itu, daya tarik Madura yang lain bisa dilihat pada pemandangan alamnya.
Untuk mewujudkan Pulau Madura sebagai tujuan Priwisata Islami ada lima hal yang harus diupayakan, meliputi sumber daya manusianya, promosi, infrastuktur, kerjasama, dan lembaganya.
Dalam memberdayakan sumber daya manusia, pemerintah lokal perlu menggandeng agen wisata untuk mengadakan pelatihan dan pembelajaran secara umum untuk meningkatkan kemampuan. Selain dengan agen wisata, pemerintah lokal juga perlu bekerjasama dengan pondok pesantren untuk memberikan pelatihan agar mempunyai pengetahuan dan kemampuan di bidang pariwisata, seperti penguasan bahasa asing, dan jadwal perjalanan.
Promosi bisa dilakukan dengan cara menerbitkan leaflet, booklet, pameran, dan souvenir. Di bidang infrastruktur bisa diterapkan dengan memberikan kemudahan, seperti kemudahan akomodasi dan transportasi.
Sementara kerjasama bisa diwujudkan antara empat daerah di Madura dengan negara lain, seperti komunitas seni di Madura dapat bekerjasama dengan Mesir.
Dan di bidang institusi, pemerintah dapat menjadi pengontrol dan fasilitator dalam membuat peraturan Pariwisata Islami dan pembukaan bisnis.
"Selain itu, lembaga pendidikan Islam juga punya peran untuk mempersiapkan kemampuan sumber daya manusia dan juga melakukan penelitian terkait pariwisata Islam,"katanya.
Sementara itu, paparan Faid dalam konferensi internasional tersebut mendapat apresiasi cukup besar tidak hanya dari pemapar Indonesia, namun juga Malaysia, Filipina, dan Thailand.

1 komentar: